Seperti pada kutipan di bawah ini. Apresiasi Prosa novel “Azab dan Sengsara” karya Merari Siregar 10 f “Ah, rupanya hari sudah malam. Dari tadi saya menunggu-nunggu Angkang,” (Merari Siregar, 2010:4) Setelah kedatangan Aminuddin yang ditunggu. Mulailah Aminuddin mengucapakan maksud kedatangannya mengunjungi Mariamin.
Merari Siregar adalah seorang sastrawan yang mula-mula menulis novelnya, Azab dan Sengsara dengan corak baru untuk ukuran zamannya ketika hikayat masih dominan. Dia lahir di Sipirok, Tapanuli, Sumatra Utara, tanggal 13 Juli 1896 dan meninggal di Kalianget, Madura, tanggal 23 April 1940.
Sinopsis. Suatu keluarga mempunyai dua orang anak, seorang bernama Tohir (setelah dewasa bergelar Sutan Baringin), dan seorang lagi perempuan, adik Sutan Baringin yang kemudian menikah dengan Sutan di atas, seorang Kepala Kampung A dari Luhak Sipirok, dan mempunyai seorang anak tunggal laki-laki bernama Aminu'ddin.
8. Sengsara membawa nikmat (1928) Penulis: Tulis Sutan Sati Penerbit: Balai Pustaka Sinopsis: Dari novel ini muncul tokoh yang mungkin masih anda kenal sampai sekarang, mengisahkan tentang kisah seorang pemuda shalih bernama Midun 7. Pertemuan (1927) Penulis: Abbas Soetan Pamoentjak Penerbit: Balai Pustaka 6. Cinta yang membawa maut (1926)
Vay Tiền Trả Góp 24 Tháng.
sinopsis dari novel azab dan sengsara